Bayi Baru Lahir Alami Kejang, Apakah Berbahaya?

Bagi ibu yang baru saja melahirkan, tentu kerap direpotkan oleh tambahan kegiatan untuk mengurus si bayi mungil. Apalagi, ketika bayi baru lahir Anda terserang demam. Bisa dipastikan Anda tidak dapat memejamkan mata. Kondisi bayi yang terserang demam memang sangat mengkhawatirkan, ditambah lagi jika dibarengi dengan kejang.

Apa langkah yang harus dilakukan ketika bayi mungil Anda terserang kejang atau biasan disebut step? Apakah normal bayi baru lahir terserang kejang? Adakah kejang yang masih masuk dalam kategori normal?
Semua pertanyaan di atas kerap menghantui para ibu, apalagi ibu yang baru merasakan proses melahirkan. Kondisi kejang pada bayi baru lahir memang jarang ditemukan, jika sampai terjadi maka kondisi tersebut bisa masuk dalam kategori darurat.

Apalagi ditambah dengan rumor atau ketakutan para orang tua, ketika mendapati kondisi anak mereka kejang. Kejang kerapkali dikaitkan menjadi salah satu penyebab anak terkena epilepsi dan gangguan mental. Ketakutan inilah yang memicu orang tua tidak mampu menciptakan kondisi tenang. Rasa panik lebih mendominasi para orang tua ketika menghadapi bayi mereka kejang.

Sebelum Anda panik, sebaiknya harus mengetahui terkait apa yang dimaksud dengan kejang atau step terlebih dahulu. Kontraksi otot yang terjadi secara berlebihan dalam jangka waktu tertentu dapat membuat bayi yang sedang demam mengalami kejang. Kondisi ini biasanya membuat orang tua menjadi paranoid.

Ketika bayi baru lahir terserang demam dan berujung pada kejang, sebaiknya memang langsung dibawa ke rumah sakit terdekat, agar bayi mendapatkan pertolongan pertama, terutama menurutkan demamnya. Dokter pun akan memberikan diagnosis yang lebih teliti, ketika keluhan atau penyakit ditangani lebih dini.

Ada sejumlah gejala kejang yang harus diwaspadai pada bayi baru lahir, terutama jika terjadi kejang pada saat bayi tersebut mengalami demam. Gejalanya yakni:

Tubuh bayi akan keras dan kaku ketika digendong. Ini merupakan ciri umum ketika kejang menyerang seseorang.
Mulut bayi mengeluarkan busa atau dalam kondisi lebih parah lagi, bayi tersebut sampai muntah.
Terkadang bayi juga buang hajat ketika kejang terjadi.

Mata bayi juga mengalami sedikit perubahan, bagian hitam pada mata tidak akan terlihat sehingga hanya terlihat bagian putihnya saja.
Durasi waktu kejang bervariasi, kadang hanya beberapa detik, ada yang hingga beberapa menit.

Namun, ketika bayi mengalami demam dan kejang pertama di bawah usia 28 hari setelah kelahiran, memang sangat dianjurkan untuk mengonsultasikan pada dokter spesialis anak terkait kondisi tersebut. Ini lantaran ketika bayi mengalami kejang maka dapat menyebabkan terjadinya kerusakan sel-sel otaknya. Itulah sebabnya disarankan membawa bayi ke dokter secepatnya untuk mendapatkan penanganan yang tepat, guna menghindari segala sesuatu yang kerap disangkut-pautkan dengan kondisi demam-kejang.

Ketika bayi sudah terserang kejang sekali, maka Anda selaku orang tua harus lebih waspada lagi ke depannya, ketika bayi Anda mengalami demam. Ini lantaran kondisi kejang kerap tidak hanya terjadi sekali, kejang dapat berulang hingga anak berusia 5 tahun.

Sebagai informasi tambahan, ketika bayi Anda mengalami kejang kurang lebih 48 jam pertama setelah dilahirkan, maka bisa saja disebabkan oleh kondisi trauma lahir, asfiksia atau hipoglikemia. Jika bayi Anda kejang di antara hari ke-5 dan ke-7, bisa disimpulkan bahwa bayi mengalami hipokalsemia yang bukan disebabkan komplikasi. Ketika kejang itu terjadi di hari ke-7 hingga hari ke-10, maka bayi kemungkinan mengalami infeksi atau bisa jadi kelainan genetik. Biasanya ketika orang tua bayi juga memiliki riwayat kejang, maka di saat memiliki anak diharapkan untuk selalu berhati-hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Main Menu