Begini Caranya Mendisiplinkan Anak yang Sensitif

mendidik anak

Setiap anak memiliki karakter masing-masing. Salah satunya karakter sensitif yang terlihat dari sifat pemalu saat berinteraksi dengan orang lain, atau hatinya yang gampang tersentuh sehingga mudah menangis. Akibat sensitivitasnya itu, Anda sering bingung menegurnya karena takut melukai perasaannya? Nah, Anda harus menyimak pembahasan ‘cara mendidik anak sensitif’.

Coba tanyakan pada diri Anda, apakah Anda tidak keberatan dengan karakter tersebut, atau justru menyesalinya dan membandingkannya dengan saudara lainnya? Kalau Anda menyesalinya, Anda harus tahu hal ini. Karakter sensitif itu juga suatu anugerah.

Anak yang sensitif biasanya tipikal seniman, inovator, dan pemikir andal. Contohnya Carl Jung, Joseph Campbell, Abraham Lincoln. dan Eleanor Roosevelt. Selain itu, anak sensitif merespons lebih baik ketika dimintai pertolongan. Mereka lebih peka terhadap keadaan sekitar.

Nah, harus bangga, kan? Setiap anak itu spesial. Lalu bagaimana cara mendisiplinkan anak sensitif yang berbuat kesalahan?

Disiplin yang Harus Dihindari

  1. Hindari mempermalukannya! Misalnya dengan mengucapkan, “Dasar anak nakal!” atau “Kenapa kamu tidak bisa melakukan satu hal pun dengan benar!” Kata-kata itu hanya akan menghancurkan perasaannya.
  2. Hindari mengejeknya! Bagi sebagian orang, saling mengejek itu kegiatan yang menyenangkan. Tapi, jika ejekan itu diselipi pesan sarkatis, anak akan merasa tersinggung.
  3. Jangan memberikan hukuman fisik! Misalnya, memukul atau menjewer kupingnya. Tindakan itu akan terus membekas di hatinya. Lagipula, bagaimana dia memahami tujuan Anda mendisiplikannya, kalau Anda hanya membuatnya fokus pada rasa sakit.
  4. Jangan membuatnya merasa putus asa dan tidak dicintai! Dulu, sempat populer taktik mendisiplinkan anak dengan cara menyuruhnya berdiri di sudut tertentu, memerintahkannya untuk  merenungi kesalahannya. Bahkan pada anak yang tidak sensitif pun, cara tersebut sangat tidak efektif.
  5. Jangan terlalu longgar! Meskipun Anda takut menyakiti hatinya, tapi bukan berarti Anda tidak melakukan apa-apa sama sekali. Anda hanya perlu mengoreksi kesalahannya dengan memberikan pengertian secara perlahan, bukan dengan menghardik atau mempermalukannya.

Disiplin yang Harus Diterapkan

  1. Nasihati dia dengan nada yang serius. Itu sudah lebih dari cukup daripada harus marah-marah. Anak sensitif selalu ingin menyenangkan hati orang-orang yang disayanginya. Ketika dia diberi pengertian atas kesalahannya, dia akan berusaha memperbaikinya.
  2. Yakinkan untuk selalu berada di sisinya. Ketika anak sensitif merasa terancam, dia lebih memilih diam seribu bahasa daripada mengekspresikan perasaan. Meskipun dia berbuat kesalahan, tetaplah menunjukkan bahwa Anda selalu ada di sisinya dan membantunya untuk terus memperbaiki diri.
  3. Adaptasi cara kolot menjadi cara yang lebih baik. Sudah disebutkan bahwa zaman dulu, orang tua menghukum anaknya berdiri di sudut ruangan. Nah, coba Anda adaptasi menjadi seperti ini.

Ajak anak ke suatu ruangan khusus yang Anda sebut calming area.Bantu dia menenangkan diri, kemudian diskusikan perilakunya yang harus diperbaiki.

  • Tetapkan konsekuensi kalau anak tetap tidak patuh meskipun sudah dinasihati. Tapi, ingat! Jangan mencari konsekuensi yang bisa mempermalukannya.
  • Setelah menerapkan kedisiplinan, tingkatkan rasa nyaman dan kepercayaan dirinya. Meskipun dia ditegur atas kesalahannya, dia harus tahu bahwa dia tetap dicintai. Tunjukkan dengan kalimat-kalimat yang membangkitkan semangatnya, atau bermainlah bersamanya.

Cara mendidik anak itu memang gampang-gampang susah, apalagi terhadap anak yang sensitif. Anda harus peka untuk memahami perasaannya. Tapi, yakinlah, suatu hari nanti dia akan menjadi anak yang Anda banggakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Main Menu