Benarkah Tidur Teratur Dapat Memengaruhi Kecerdasan Anak?

kualitas tidur anak

Anak sering terlambat tidur karena keasyikan menonton acara televisi, atau justru karena terlalu lama mengerjakan PR? Hmm…apapun alasan yang membuat anak menunda-menunda waktu tidurnya, tidak bisa dibenarkan. Penelitian menunjukkan, ada kaitannya antara tidur yang cukup dan kecerdasan anak. Begini penjelasannya….

Tidur malam dapat meningkatkan memori sehingga memudahkan anak dalam memproses informasi baru. Menurut Penelitian dari Division of Sleep Medicine at Harvard Medical School, tidur tidak hanya mempersiapkan manusia dalam membentuk memori baru, tapi juga membantu mengintegrasikan memori-memori itu ke dalam susunan saraf otak.

Mimpi-mimpi yang dialami anak seperti geladi resik sebelum memulai hari yang baru. Pada saat itu, otak sibuk memperkuat koneksi dan menyeret memori sekitar agar lebih mudah diakses.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam “Proceedings of the National Academy of Sciences” pada tahun 2009, menjelaskan bahwa kemungkinan terdapat hubungan antara tidur Rapid Eye Movement (REM) dan koneksi-koneksi baru di otak, serta ide-ide yang sebelumnya tidak berhubungan. Jenis koneksi tersebut bisa jadi berguna dalam mengembangkan kreativitas.

Ketika anak tidur dengan nyenyak, otak menautkan konsep-konsep yang mereka tunjukkan  sepanjang hidup, serta menemukan hubungan antara semua subjek yang tampaknya tidak terkoneksi. Hasilnya, anak-anak lebih siap dalam mengatasi teka-teki hidup secara kreatif, dan lebih mampu berpikir kritis di semua disiplin ilmu.

Penelitian dari University of Notre Dame menunjukkan, tidur dapat membentuk kecedasan dan kreativitas dengan membiarkan otak tumbuh dan berkembang. Otak membutuhkan waktu untuk memproses semua data sensorik.

Sebaliknya, tidur yang tidak memadai dapat menganggu konsentrasi anak dalam belajar.  National Sleep Foundation menyatakan bahwa rasa kantuk membuat anak-anak kesulitan mengelola impulsivitas dan emosi di kelas sehingga menyebabkan gangguan belajar. Jika dibiarkan berlarut-larut, proses belajar anak akan tertinggal jauh di belakang.

National Sleep Foundation melakukan eksperimen, beberapa anak diminta tidur lebih lambat daripada  jam normalnya setiap malam selama seminggu. Kemudian, anak-anak yang sama diminta lagi untuk tidur selama 10 jam setiap malam selama seminggu. Hasilnya, guru melaporkan bahwa gangguan belajar memang terjadi pada anak-anak yang tidur terlambat.

Masih menurut National Sleep Foundation, kurang tidur merupakan salah satu faktor penyebab  rendahnya prestasi anak dan remaja. Anak yang kelelahan akan sulit berkonsentrasi sehingga memengaruhi nilai-nilai akademisnya.

Berdasarkan penelitian Notre Dame, anak-anak yang berusia 3-5 tahun sebaiknya menerapkan waktu tidur sebanyak 11-13 jam. Sementara itu, anak-anak usia sekolah perlu tidur selama 10-11 jam.

Sudah jelas, bukan? Banyak sekali penelitian-penelitian yang menunjukkan bahwa tidur yang cukup memiliki keterkaitan dengan kecerdasan anak. Nah, jika anak Anda masih betah berlama-lama di depan televisi atau mengerjakan PRnya, Anda harus tegas menyuruhnya lekas tidur.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Main Menu