Cara Mendidik Anak : Jika Anak Anda Sering Merasa Cemas, Jangan Pernah Katakan 5 Kalimat Ini!

anak sering cemas

Pada artikel cara mendidik anak #2, Anda akan diajarkan bagaimana cara menanggapi kecemasan si buah hati. Barangkali, anak Anda sering merengek karena kecemasan yang menurut Anda tidak logis. Misalnya, takut dengan dokter, takut dengan badut, dan sebagainya.

Menurut psikolog Renee Jein, ada empat kalimat yang tidak boleh Anda katakan dan bisa diganti dengan kalimat lain yang lebih baik, di antaranya berikut ini:

“Semuanya Akan Baik-Baik Saja! Percaya Sama Mama!”

Maksud hati ingin menyampaikan kalimat yang mampu menenangkan perasaannya, tapi malah tidak memberikan efek apa-apa. Tahukah Anda, ketika seseorang mengalami stres, sistem saraf akan langsung menunjukkan mekanisme protektif. Misalnya, jantung yang berdetak kencang, telapak tangan berkeringat dingin, lutut terasa lemas, wajah terlihat pucat, dan sebagainya. Mekanisme itu membuat si anak kesulitan berpikir dengan jernih.

Apa yang bisa dilakukan adalah merespons secara langsung mekanisme protektifnya. Misalnya, Anda menggenggam tangannya yang berkeringat, mengajaknya menarik nafas dalam-dalam sembari memberikan sugesti positif.

“Tidak Ada yang Perlu Ditakutkan!”

Biasanya, para ayah mendorong keberanian anaknya dengan mengatakan kalimat seperti di atas. Padahal, ucapan tersebut tidak mampu menumbuhkan keberaniannya. Kecemasan itu seperti alarm yang berbunyi ketika seseorang merasa terancam.

Anda pasti juga pernah mengalami momen-momen yang mencemaskan dalam hidup. Misalnya, hari pertama bekerja, ketika melamar wanita yang sekarang menjadi istri Anda, dan sebagainya. ‘Alarm’ Anda berbunyi, dan Anda tidak bisa pura-pura berkata ‘tidak ada yang perlu ditakutkan.’ Anda tahu, rasa takut itu nyata.

Begitu juga yang dialami anak Anda. Katakan padanya, “Ayah juga pernah merasa takut, dan Ayah tahu bagaimana rasanya.” Dukung dia sebelum berusaha mengatasi rasa cemasnya.

“Sini, Mama Kasih Tahu Alasan Kamu Tidak Perlu Cemas!”

Kecemasan dapat menguasai prefrontal cortex, bagian otak yang mengatur logika dan emosi. Akhirnya, anak tidak dapat berpikir jernih ketika kecemasan itu datang. Jadi, ucapan seperti di atas tidak  mampu lagi merasuk ke dalam pikirannya.

Solusinya, mintalah dia membayangkan tempat-tempat yang membuat relaks, seperti pantai atau gunung. Selanjutnya, mintalah dia bernafas secara teratur, kemudian mendeskripsikan tempat itu. Begitu dia merasa tenang, Anda bisa mengajaknya berdiskusi tentang alasan-alasan ketakutannya. Nantinya, dia akan merasa lebih percaya diri dan berpikir secara logis.

“Berhentilah Merasa Cemas!”

Ketika Anda menghardiknya dan melabelinya dengan julukan ‘si tukang cemas’, hal itu hanya akan memperburuk kondisi psikologisnya. Dia akan membandingkan-bandingkan dirinya dengan anak-anak lain. Berawal dari julukan, dia pun mencari pembuktian diri bahwa dia memang seorang pencemas.

Jadi, jangan sekali-kali menjulukinya ‘si tukang cemas’ atau yang serupa maknanya. Buatlah dia relaks, kemudian jelaskan dengan lembut  bahwa setiap orang bisa merasa cemas, dan setiap kecemasan pasti memiliki tujuan yang kuat.

“Kami Tidak Mengerti, Kenapa Kamu Bisa Begitu Cemas?”

Ucapan itu tidak akan mampu menghentikan kecemasan. Anak ingin dimengerti, bukan disudutkan. Cobalah tempatkan diri di posisinya.

Tunjukkan pada buah hati bahwa dia tidak sendiri. Kalian memahami apa yang dia rasakan dan ikut berjuang bersamanya. Anak pun akan merasa mendapat dukungan moril.

Semoga artikel cara mendidik anak #2 dapat bermanfaat bagi ayah dan bunda. Yuk, praktikkan lima cara di atas!

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Main Menu